
Ilustrasi ceramah keagamaan (sumber : blog.umy.ac.id)
Kendari - Ali
bin Abi Thalib merupakan sahabat, saudara sepupu dan menantu Rasulullah
SAW. Ali juga merupakan satu-satunya sahabat yang bergelar Karramallaahu Wajhahu
(semoga Allah SWT memuliakan wajah Ali). Gelar tersebut disematkan
karena Ali tidak pernah menyembah berhala sejak ia lahir, sehingga
wajahnya suci. Demikian disampaikan oleh Ketua PTA Kendari, Drs. H.
Armia Ibrahim, SH., MH., dalam tausiahnya pada ceramah keagamaan yang
rutin diselenggarakan setiap Rabu, Ba’da Asyar (08/04/2015), bertempat
di Mushola Al Amin, komplek PTA Kendari.
Ali,
lanjut H. Armia Ibrahim, dikenal sebagai sahabat yang sangat sederhana,
bijaksana, saleh dan zuhud. Ali juga dikenal sangat khusyuk dalam
setiap shalatnya. Saking khusyuknya, beliau sampai tidak merasakan sakit
yang mendera ketika sedang shalat. Ini terbukti saat tubuhnya terkena
anak panah di tengah perang dan Ali meminta anak panah tersebut dicabut
pada saat ia shalat.
Ali
sejak kecil dididik langsung oleh Rasulullah SAW, sehingga
dianugerahi oleh Allah SWT ilmu dan pengetahuan yang luas dalam bidang
apapun. Maka, tidak heran kalau Nabi sendiri bersabda “ana madinatul ilmi wa aliyyun babuha, faman aradal madinah fa ya’tiha min babihi”, (Akulah kotanya ilmu dan Ali pintunya, maka siapapun yang ingin memasuki kota, hendaklah ia masuk melalui pintunya).
Ada
dua peristiwa yang menunjukkan betapa luas ilmu pengetahuan dan
kecerdasan Ali bin Abi Thalib, seperti yang dikisahkan oleh H. Armia
Ibrahim.
Pada
zaman Khalifah Umar bin Khattab, ada sepasang suami istri yang menikah
dan enam bulan kemudian melahirkan seorang anak. Kemudian, tetangga
suami – istri tersebut melapor kepada Khalifah Umar, mereka
berkesimpulan suami – istri tersebut telah melakukan zina sebelum
menikah dan harus dihukum rajam. Pada saat prosesi hukum rajam telah
dipersiapkan, datanglah Ali bin Abi Thalib. Setelah dijelaskan mengenai
duduk perkaranya, kemudian Ali mengingatkan kepada Khalifaf Umar akan
firman Allah SWT yang menjelaskan, bahwa masa kehamilan seorang wanita
adalah paling sedikit enam bulan, dan meyapih bayinya dalam masa dua
tahun. Maka Umar pun menggagalkan eksekusi rajam dan berkata “Sebuah perkara yang seandainya Ali bin Abi Thalib tidak memberikan pendapatnya maka niscaya aku binasa”.
Kisah
kedua, seperti dituturkan oleh Ketua PTA Kendari, adalah kisah mengenai
dua orang pengembara yang duduk bersama di tengah oase gurun pasir dan
mereka makan roti. Pengembara pertama mempunyai 5 potong roti,
sedangkan pengembara kedua mempunyai 3 potong roti. Kemudian datanglah
pengembara ketiga melintas di depan mereka. Atas permintaan dari
pengembara pertama dan pengembara kedua, pengembara ketiga ini diajak
untuk bergabung dan menikmati roti mereka. Lalu para pengembara memotong
masing - masing roti yang jumlahnya 8, menjadi tiga bagian yang sama.
Masing-masing dari pengembara tersebut, makan delapan potongan roti.
Pada
saat pengembara ketiga meninggalkan keduanya, ia mengeluarkan uang
sebesar 8 dirham, dan diberikan kepada kedua pengembara tersebut, yang
telah menawarkan makanan kepadanya. Setelah menerima uang, kedua
pengembara itu mulai berselisih tentang pembagian uang tersebut.
Pengembara pertama dengan 5 roti meminta bagian berupa uang lima dirham.
Pengembara kedua dengan 3 roti, bersikeras membagi uang menjadi dua
bagian yang sama (masing-masing 4 dirham ). Setelah tidak menemukan kata
mufakat, maka disepakati bahwa perselisihan tersebut dibawa kepada Ali
bin Abi Thalib yang dikenal bijak dan cerdas.
Kemudian
bagaimana pendapat Ali? Hal ini oleh Penceramah ditanyakan kepada para
jamaah. Muh. Amir Razak, mengatakan bahwa kemungkinan besar Ali bin Abi
Thalib akan membagi kepada masing - masing pengembara tersebut empat
dirham. Sedangkan Hj. Siti Tawaningsih berpendapat kemungkinan besar
uang delapan dirham tersebut akan diambil untuk disedekahkan kepada
fakir - miskin atau disimpan di baitul maal.
Bagaimana
kira - kira pendapat sahabat Ali bin Abi Thalib? Ali, lanjut
Penceramah, kemudian meminta kepada pengembara kedua yang punya 3 roti,
untuk menerima uang tiga dirham. Menurut Ali si pengembara pertama yang
punya lima roti, telah lebih adil kepada Pengembara Kedua. Tetapi,
Pengembara Kedua menolak dan mengatakan bahwa, ia akan bersikeras untuk
mendapatkan uang empat dirham.
Kemudian, Ali Karramallaahu Wajhahu berkata kepada pengembara kedua, “Anda hanya berhak memiliki satu dirham. Anda berdua memiliki 8 roti (5 roti ditambah 3 roti). Setiap roti dipotong menjadi tiga bagian yang sama. Oleh karena itu, Anda memiliki 24 bagian yang sama (8 roti dikali tiga 3 bagian = 24 potong roti). Tiga roti anda (pengembara yang kedua) setelah dibagi tiga menjadi 9 bagian, kemudian dari 9 bagian roti tersebut, telah Anda makan 8 porsi, dan anda hanya memberikan 1 porsi untuk pengembara ketiga. Sedangkan pengembara pertama yang memiliki 5 roti, kemudian dipotong menjadi 3 bagian yang sama, jadi 15 porsi. Ia makan 8 porsi, dan sisanya 7 porsi, diberikan kepada pengembara ketiga. Jadi, pengembara kedua, harus mendapatkan satu dirham, dan pengembara pertama, harus menerima tujuh dirham.“
Setelah
dijelaskan demikian, pada akhirnya kedua pengembara dapat menerima
bagian dirham seperti yang dirumuskan oleh Ali bin Abi Thalib.
Di
akhir ceramahnya, H. Armia Ibrahim mengajak kepada para jamaah untuk
dapat meneladani kisah hidup Ali bin Abi Thalib dengan selalu menambah
iman dan ilmu. Mengingat Allah SWT, dalam Firmannya berjanji akan
meninggikan derajat orang - orang yang beriman dan berilmu. Ceramah
keagamaan yang digelar secara lesehan ini diikuti oleh jamaah yang
terdiri dari seluruh pegawai PTA Kendari. Tujuannya ialah untuk menambah
pemahaman ilmu agama dan mempertebal rasa iman kepada Allah SWT. (t.rom)