Friday, 10 April 2015

MENELADANI KISAH ALI BIN ABI THALIB

Ilustrasi ceramah keagamaan (sumber : blog.umy.ac.id)

Kendari - Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat, saudara sepupu dan menantu Rasulullah SAW. Ali juga merupakan satu-satunya sahabat yang bergelar Karramallaahu Wajhahu (semoga Allah SWT memuliakan wajah Ali). Gelar tersebut disematkan karena Ali tidak pernah menyembah berhala sejak ia lahir, sehingga wajahnya suci. Demikian disampaikan oleh Ketua PTA Kendari, Drs. H. Armia Ibrahim, SH., MH., dalam tausiahnya pada ceramah keagamaan yang rutin diselenggarakan setiap Rabu, Ba’da Asyar (08/04/2015),  bertempat di Mushola Al Amin, komplek PTA Kendari.

Ali, lanjut H. Armia Ibrahim, dikenal sebagai sahabat yang sangat sederhana, bijaksana, saleh dan zuhud. Ali juga dikenal sangat khusyuk dalam setiap shalatnya. Saking khusyuknya, beliau sampai tidak merasakan sakit yang mendera ketika sedang shalat. Ini terbukti saat tubuhnya terkena anak panah di tengah perang dan Ali meminta anak panah tersebut dicabut pada saat ia shalat.

Ali sejak kecil dididik langsung oleh Rasulullah SAW, sehingga dianugerahi oleh Allah SWT ilmu dan pengetahuan yang luas dalam bidang apapun. Maka, tidak heran kalau Nabi sendiri bersabda “ana madinatul ilmi wa aliyyun babuha, faman aradal madinah fa ya’tiha min babihi”, (Akulah kotanya ilmu dan Ali pintunya, maka siapapun yang ingin memasuki kota, hendaklah ia masuk melalui pintunya).

Ada dua peristiwa yang menunjukkan betapa luas ilmu pengetahuan dan kecerdasan Ali bin Abi Thalib, seperti yang dikisahkan oleh H. Armia Ibrahim.

Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, ada sepasang suami istri yang menikah dan enam bulan kemudian melahirkan seorang anak. Kemudian, tetangga suami – istri tersebut melapor kepada Khalifah Umar, mereka berkesimpulan suami – istri tersebut telah melakukan zina sebelum menikah dan harus dihukum rajam. Pada saat prosesi hukum rajam telah dipersiapkan, datanglah Ali bin Abi Thalib. Setelah dijelaskan mengenai duduk perkaranya, kemudian Ali mengingatkan kepada Khalifaf Umar akan firman Allah SWT yang menjelaskan, bahwa masa kehamilan seorang wanita adalah paling sedikit enam bulan, dan meyapih bayinya dalam masa dua tahun. Maka Umar pun menggagalkan eksekusi rajam dan berkata “Sebuah perkara yang seandainya Ali bin Abi Thalib tidak memberikan pendapatnya maka niscaya aku binasa”.

Kisah kedua, seperti dituturkan oleh Ketua PTA Kendari, adalah kisah mengenai dua orang pengembara yang duduk bersama di tengah oase gurun pasir dan mereka makan roti. Pengembara pertama mempunyai 5 potong roti, sedangkan pengembara kedua mempunyai 3 potong roti. Kemudian datanglah pengembara ketiga melintas di depan mereka. Atas permintaan dari pengembara pertama dan pengembara kedua, pengembara ketiga ini diajak untuk bergabung dan menikmati roti mereka. Lalu para pengembara memotong masing - masing roti yang jumlahnya 8, menjadi tiga bagian yang sama. Masing-masing dari pengembara tersebut, makan delapan potongan roti.
Pada saat pengembara ketiga meninggalkan keduanya, ia mengeluarkan uang sebesar 8 dirham, dan diberikan kepada kedua pengembara tersebut, yang telah menawarkan makanan kepadanya. Setelah menerima uang, kedua pengembara itu mulai berselisih tentang pembagian uang tersebut. Pengembara pertama dengan 5 roti meminta bagian berupa uang lima dirham. Pengembara kedua dengan 3 roti, bersikeras membagi uang menjadi dua bagian yang sama (masing-masing 4 dirham ). Setelah tidak menemukan kata mufakat, maka disepakati bahwa perselisihan tersebut dibawa kepada Ali bin Abi Thalib yang dikenal bijak dan cerdas.

Kemudian bagaimana pendapat Ali? Hal ini oleh Penceramah ditanyakan kepada para jamaah. Muh. Amir Razak, mengatakan bahwa kemungkinan besar Ali bin Abi Thalib akan membagi kepada masing - masing pengembara tersebut empat dirham. Sedangkan Hj. Siti Tawaningsih berpendapat kemungkinan besar uang delapan dirham tersebut akan diambil untuk disedekahkan kepada fakir - miskin atau disimpan di baitul maal.

Bagaimana kira - kira pendapat sahabat Ali bin Abi Thalib? Ali, lanjut Penceramah, kemudian meminta kepada pengembara kedua yang punya 3 roti, untuk menerima uang tiga dirham. Menurut Ali si pengembara pertama yang punya lima roti, telah lebih adil kepada Pengembara Kedua. Tetapi, Pengembara Kedua menolak dan mengatakan bahwa, ia akan bersikeras untuk mendapatkan uang empat dirham.

Kemudian, Ali Karramallaahu Wajhahu berkata kepada pengembara kedua, “Anda hanya berhak memiliki satu dirham. Anda berdua memiliki 8 roti (5 roti ditambah 3 roti). Setiap roti dipotong menjadi tiga bagian yang sama. Oleh karena itu, Anda memiliki 24 bagian yang sama (8 roti dikali tiga 3 bagian  = 24 potong roti). Tiga roti anda (pengembara yang kedua) setelah dibagi tiga menjadi 9 bagian, kemudian dari 9 bagian roti tersebut, telah Anda makan 8 porsi, dan anda hanya memberikan 1 porsi untuk pengembara ketiga. Sedangkan pengembara pertama yang memiliki 5 roti, kemudian dipotong menjadi 3 bagian yang sama, jadi 15 porsi. Ia makan 8 porsi, dan sisanya 7 porsi, diberikan kepada pengembara ketiga. Jadi, pengembara kedua, harus mendapatkan satu dirham, dan pengembara pertama, harus menerima tujuh dirham.“

Setelah dijelaskan demikian, pada akhirnya kedua pengembara dapat menerima bagian dirham seperti yang dirumuskan oleh Ali bin Abi Thalib.

Di akhir ceramahnya, H. Armia Ibrahim mengajak kepada para jamaah untuk dapat meneladani kisah hidup Ali bin Abi Thalib dengan selalu menambah iman dan ilmu. Mengingat Allah SWT, dalam Firmannya berjanji akan meninggikan derajat orang - orang yang beriman dan berilmu. Ceramah keagamaan yang digelar secara lesehan ini diikuti oleh jamaah yang terdiri dari seluruh pegawai PTA Kendari. Tujuannya ialah untuk menambah pemahaman ilmu agama dan mempertebal rasa iman kepada Allah SWT. (t.rom)