Hari
itu, Sabtu (18/04/15), tidak biasanya saya bangun pukul 05.15 WITA.
Masih terlalu pagi untuk ukuran saya yang biasa bangun kesiangan. Lantas
ambil air wudhu dan sholat subuh. Tidak biasanya pula saya ingin sekali
untuk memulai hidup sehat dengan lari pagi. Meski tanpa sepatu,
akhirnya saya sukses berlari di pagi itu dengan jarak yang lumayan bagi
pemula.
Jam
di Hape menunjukkan pukul 06.35 WITA seusai lari pagi. Tidak biasanya
juga, saya menelpon istri tercinta yang sedang harap-harap cemas menanti
kelahiran anak kedua kami. Katanya, janin di rahimnya sudah memberi
tanda akan keluar. Tetapi, tanda itu belum terlalu kuat. Saya
menyarankan istri untuk check up ke bidan.
Tanpa ada feeling
apapun, saya lanjutkan kegiatan di pagi itu dengan merendam baju dan
belanja ke pasar panjang. Tiba di kost Jam 08.30 WITA, istri memberi
kabar bahwa menurut bidan, kandungannya sudah memasuki bukaan tiga.
Kalang
kabut saya berfikir apa yang harus saya lakukan? Satu per satu saya
urai apa yang harus saya lakukan? Cari tiket pesawat, mencuci baju,
kemudian ke rumah atasan untuk minta izin dan pesan taksi.
Saya buka aplikasi Traveloka di Hape, hunting
tiket rute Kendari-Yogya sudah tidak ada. Saya telpon teman kantor yang
jualan tiket pesawat, ternyata tiket pesawat untuk rute tersebut sudah
habis. Pening kepala saya. Kemudian saya putuskan untuk mencuci pakaian
yang sudah terlanjur direndam.
Setelah urusan cucian beres, saya pun melanjutkan kembali hunting
tiket pesawat. Traveloka masih menjadi pilihan utama untuk hunting
tiket ini. Selain murah, aplikasinya juga simpel dioperasikan. Setelah
melihat, memperhatikan dan menimbang, maka saya putuskan untuk membeli
tiket dengan rute Kendari-Solo, meski harus transit di Makassar dan
Jakarta.
Sesudah memastikan tiket di tangan, saya pergi
ke rumah atasan untuk meminta izin. Memang sebelumnya sudah saya
siapkan permohonan cuti alasan penting yang saya taruh di meja kerja
saya. Atasan pun memberikan lampu hijau. Kemudian prepare sebentar untuk selanjutnya berangkat ke bandara haluoleo Kendari dengan menggunakan taksi yang sebelumnya sudah saya pesan.
Waktu
menunjukkan pukul 13.30 WITA saat istri di rumah memberi kabar bahwa ia
sudah melahirkan. Wowww... Ada semacam perasaan yang hilang dari dalam
hati saya, karena tidak bisa mendampingi istri melahirkan. Ada juga
perasaan senang karena istri dimudahkan dalam proses persalinannya.
Berbeda dengan proses persalinan anak pertama yang memerlukan waktu
lama.
Ceritapun berlanjut hingga akhirnya saya sampai
dengan selamat di rumah. Saat itu dini hari pukul 02.45 WIB. Saya tiba
setelah sebelumnya terkena delay satu jam di Jakarta dan mendarat
di bandara adi soemarmo Solo pada pukul 22.00 WIB, kemudian menyambung
dengan moda bus ke Jogja dan lanjut ke Gombong.
Di
hadapanku ada bayi mungil cewek nan cantik menggemaskan. Di sampingnya,
anak lelakiku sedang tertidur lelap. Hidup begitu damai dan tentram
setelah berkumpul kembali di tengah keluarga tercinta. Ada istri
tercinta dan anak-anak tersayang.
Anakku, Maafkan
bapakmu tidak bisa mendampingimu saat kau berjuang menemukan jalanmu ke
dunia ini. Maafkan bapakmu yang membiarkanmu jauh disana bersama mamas,
ibu, dan mbah-mbahmu. Maafkan bapakmu yang tidak bisa setiap saat
membelai dan menimangmu. Bapak janji, nanti setelah kau agak besar, kita
akan bertemu dan berkumpul lagi. Mamas, Adek, Bapak dan Ibu. Meski
membosankan dan sepi, semoga nanti kau betah tinggal bersama-sama.
Love you full anakku, Andini Salimah.