Wednesday, 20 May 2015

BAHAYA MENGKARBIT ANAK


Tahun 1989, seorang pemerhati anak dari Amerika Serikat, David Elkind, menuturkan dalam bukunya The Hurried Child; Growing Up To Fast and Too Soon, bahwa banyak sekali orang tua pada masa itu yang punya kecenderungan ingin anaknya serba bisa di usia yang belum waktunya.

Orang tua - orang tua tersebut berpikir jika semakin dini usia anak-anaknya menguasai banyak hal termasuk membaca, menulis dan berhitung maka anaknya kelak akan jauh lebih sukses dari anak lainnya. Bahkan sebenarnya ada juga sebagian dari orang tua  tersebut yang mengajarkan hal ini pada anak-anaknya hanya untuk memamerkan kemampuan anaknya pada orang lain, tetangga atau sanak kerabatnya.

Satu contoh yang dimaksudkan oleh David Alkind adalah kasus Baby Walker. Baby Walker ini pernah dibuat dan dipasarkan untuk membantu balita bisa lebih cepat berjalan. 

Namun, kemudian diketahui bahwa proses merangkak pada bayi merupakan fase alamiah yang sangat vital dan tidak boleh terlewati yang diciptakan Tuhan untuk melatih otot dan syaraf motorik wicara. Apabila fase ini dipercepat atau mungkin dilewatkan maka, banyak anak-anak yang mengalami kesulitan berbahasa. Hingga pada akhirnya Baby Walker pun tidak lagi dianjurkan digunakan untuk melatih balita agar lebih cepat bisa berjalan.

Begitu juga saat ini terjadi fenomena orang tua yang berlomba-lomba memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar dengan usia dibawah 7 tahun, atau bahkan mungkin kurang dari 6 tahun. Kelak sebagian dari mereka bisa mengalami Drop Syndrom atau Sindrom Mogok Sekolah atau Bosan Belajar.

Pemerintah Jerman menetapkan bahwa usia minimal anak masuk SD adalah 7 tahun persis. Tidak boleh kurang, meski 1 bulan. Jauh lebih baik masuk SD di usia lebih dari 7 tahun daripada kurang.

Dari banyak literatur dan referensi mengenai perkembangan pendidikan dan tumbuh kembang anak. Diketahui, bahwa akan jauh lebih baik jika mendidik anak sesuai dengan keinginan Tuhan melalui proses tumbuh kembang alaminya masing - masing. Karena antara satu anak dengan anak lainnya akan berbeda-beda.  Tugas orang tua sebaiknya hanya sebatas merangsang dan menstimulasi saja dan bukan untuk memaksakan sesuai keinginan orang tua masing-masing.

Sebaiknya, setiap orang tua berfokus untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anak sesuai dengan proses alami yang diciptakan oleh Tuhan. Bukan atas ambisi keinginan orang tuanya masing-masing.

1 comment:

  1. Betul beut gan... Urus anak gak boleh main2...

    ReplyDelete