Tahun 1989, seorang pemerhati anak dari Amerika Serikat, David Elkind, menuturkan dalam bukunya The Hurried Child; Growing Up To Fast and Too Soon, bahwa banyak sekali orang tua pada masa itu yang punya kecenderungan ingin anaknya serba bisa di usia yang belum waktunya.
Orang
tua - orang tua tersebut berpikir jika semakin dini usia anak-anaknya
menguasai banyak hal termasuk membaca, menulis dan berhitung maka
anaknya kelak akan jauh lebih sukses dari anak lainnya. Bahkan
sebenarnya ada juga sebagian dari orang tua tersebut yang mengajarkan
hal ini pada anak-anaknya hanya untuk memamerkan kemampuan anaknya pada
orang lain, tetangga atau sanak kerabatnya.
Satu contoh yang dimaksudkan oleh David Alkind adalah kasus Baby Walker. Baby Walker ini pernah dibuat dan dipasarkan untuk membantu balita bisa lebih cepat berjalan.
Namun,
kemudian diketahui bahwa proses merangkak pada bayi merupakan fase
alamiah yang sangat vital dan tidak boleh terlewati yang diciptakan
Tuhan untuk melatih otot dan syaraf motorik wicara. Apabila fase ini
dipercepat atau mungkin dilewatkan maka, banyak anak-anak yang mengalami
kesulitan berbahasa. Hingga pada akhirnya Baby Walker pun tidak lagi dianjurkan digunakan untuk melatih balita agar lebih cepat bisa berjalan.
Begitu
juga saat ini terjadi fenomena orang tua yang berlomba-lomba memasukkan
anaknya ke Sekolah Dasar dengan usia dibawah 7 tahun, atau bahkan
mungkin kurang dari 6 tahun. Kelak sebagian dari mereka bisa mengalami Drop Syndrom atau Sindrom Mogok Sekolah atau Bosan Belajar.
Pemerintah
Jerman menetapkan bahwa usia minimal anak masuk SD adalah 7 tahun
persis. Tidak boleh kurang, meski 1 bulan. Jauh lebih baik masuk SD di
usia lebih dari 7 tahun daripada kurang.
Dari
banyak literatur dan referensi mengenai perkembangan pendidikan dan
tumbuh kembang anak. Diketahui, bahwa akan jauh lebih baik jika mendidik
anak sesuai dengan keinginan Tuhan melalui proses tumbuh kembang
alaminya masing - masing. Karena antara satu anak dengan anak lainnya
akan berbeda-beda. Tugas orang tua sebaiknya hanya sebatas merangsang
dan menstimulasi saja dan bukan untuk memaksakan sesuai keinginan orang
tua masing-masing.
Sebaiknya,
setiap orang tua berfokus untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anak
sesuai dengan proses alami yang diciptakan oleh Tuhan. Bukan atas ambisi
keinginan orang tuanya masing-masing.

Betul beut gan... Urus anak gak boleh main2...
ReplyDelete